Film-Film Sejarah Perjuangan Tokoh Pahlawan Indonesia yang Membangkitkan Semangat

Darah dan nyawa telah dikorbankan para pahlawan yang telah mendahului kita demi memperjuangkan kemerdakaan bangsa Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia, kita tidak akan pernah bisa merasakan kemerdekaan tanpa pengorbanan para pahlawan. Sebagai generasi muda, kita wajib mengenang perjuangan para pahlawan. Nah, berikut film-film sejarah Indonesia yang membangkitkan semangat. Simak yuk!

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa pahlawannya. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan untuk negeri tercinta Indonesia. Salah satu caranya yaitu dengan mengangkat kisah-kisah perjuangan para pahlawan tersebut ke dalam film layar lebar.

Sejak dunia film mulai populer di Indonesia, sudah tak terhitung lagi berapa film tentang pahlawan yang pernah dibuat para sineas Indonesia. Nah, kali ini TunaiKita akan mengulas film-film sejarah Indonesia yang mengisahkan tentang perjuangan para pahlawan dengan berbagai latar belakang. Apa saja? Simak ulasannya berikut ini ya.

Film-Film Sejarah Indonesia yang Membangkitkan Semangat Perjuangan!

1. Soekarno (2013)

9 Artis ini pernah perankan tokoh Soekarno, siapa yang paling mirip? (www.brilio.net)

Film sejarah Indonesia pertama yang bertemakan pahlawan Indonesia yaitu Soekarno. Mengangkat perjalanan pemimpin negeri dalam sebuah film adalah rahasia yang berhasil mengajak banyak orang untuk menyaksikan film tersebut.

Hanung Bramantyo, sosok sutradara yang sudah memiliki banyak karya dan ikut andil dalam meramaikan perfilman Indonesia. Film-film miliknya memang bisa dibilang segmented. Ada yang terpuaskan dengan karyanya, dan ada juga yang tidak merasa puas dengan filmnya. Film biopik bukan menjadi hal baru dalam perjalanan karir Hanung Bramantyo. Dalam Sang Pencerah, dia telah mengangkat biopik milik pendiri Muhammadiyah. Maka, tak heran jika akhirnya Hanung Bramantyo ditunjuk menjadi pemimpin untuk mengarahkan sebuah film perjalanan Bung Karno dalam memerdekakan Indonesia.

Bung Karno adalah sosok yang sangat berjasa di negeri Indonesia ini. Merelakan hidupnya, bersusah payah untuk memerdekakan Indonesia. Sudah sering dalam pelajaran Sekolah Dasar, kita mendengarkan cerita-cerita sejarah Soekarno saat berjuang memerdekakan Indonesia. Cerita dalam film yang dibintangi Ario Bayu sebagai presiden pertama Indonesia ini pun hampir sama dengan apa yang selama ini kita tahu. Soekarno, saat kecil memiliki nama Kusno. Kusno sering terkena penyakit saat itu hingga akhirnya beliau berganti nama menjadi Soekarno. Soekarno kecil (Emir Mahira) sejak kecil sudah belajar berpidato untuk membakar semangat anak negeri dalam membela penjajah Belanda.

Ketika sudah beranjak dewasa, beliau menikah dengan Inggit (Maudy Kusnaedi). Ketika Belanda sudah mulai dikalahkan oleh negara Nippon atau Jepang, Indonesia semakin sengsara. Banyak sekali pertumpahan darah. Soekarno mencoba untuk mencari cara bagaimana negara Indonesia bisa melepaskan diri dari Jepang. Dengan bantuan dari Moh. Hatta (Lukman Sardi), beliau mencoba untuk memerdekakan Indonesia. Masalah tak hanya datang dari Indonesia dan penjajah saja, Masalah pribadi Soekarno juga memiliki masalah. Dimana, Soekarno mencintai seorang murid dari Bengkulu bernama  Fatmawati (Tika Bravani). Hal ini membuat rumah tangganya dengan Inggit berantakan.

Apa yang disajikan oleh Hanung Bramantyo dalam 145 menit ini adalah semua rangkuman dari segala bentuk perjuangan dari Soekarno. Kehidupanya saat melawan penjajah Belanda, Jepang, dan juga masalah kehidupannya sendiri. Dalam film ini, sang sutradara mencoba merangkum segala kehidupan milik Bung Karno dalam film biopiknya kali ini terkesan ambisius. Soekarno terjebak dalam penceritaannya yang serba minimalis. Pembangunan suasana yang rasanya terkesan biasa saja. Tidak jelek memang, tetapi akhirnya fokus cerita itu terbagi-bagi. Kurang memberikan suatu yang menggetarkan yang harusnya bisa dibangun dengan baik lagi. Film yang rilis tahun 2013 ini, bisa kamu nikmati untuk mengenang jasa para pahlawan khususnya presiden pertama kita Ir. Soekarno.

Baca juga: Makna Hari Pahlawan 10 November 1945 Bagi Millennials

2. Jendral Soedirman (2015)

‘Jenderal Soedirman,’ Oase Baru Film Sejarah Indonesia (www.cnnindonesia.com)

Film biopik yang menceritakan kisah tentang salah satu pahlawan Indonesia karya sutradara Viva Westi. Jendral Soedirman, dalam filmnya Westi membuat cerita Jenderal Soedirman mulai dari tahun 1946 hingga 1949. Menariknya, film ini menghadirkan aktor muda Adipati Dolken yang dipercaya untuk memerankan tokoh Jenderal Soedirman.

Film yang diproduksi oleh Padma Pictures ini mengangkat kisah perjuangan Jenderal Soedirman saat sang pahlawan melakukan perang Gerilya untuk melawan Belanda sekaligus mengusirnya dari Indonesia.

Awalnya, pihak Belanda menyatakan secara sepihak bahwa negaranya sudah tidak terikat dengan perjanjian Renville. Tak hanya itu saja, Belanda juga menyatakan penghentian gencatan senjata. Pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Simons Spoor Panglima Tentara Belanda memimpin Agresi militer ke II untuk menyerang Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia.

Soekarno (Baim Wong) dan Hatta (Nugie) justru ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Jenderal Soedirman yang sedang menderita sakit parah dengan nekatnya melakukan perjalanan ke arah selatan untuk memimpin perang gerilya selama tujuh bulan. Kala itu, Belanda menegaskan bahwa Indonesia sudah tidak ada. Dari kedalaman hutan, Jenderal Soedirman menyiarkan bahwa Republik Indonesia masih ada dan tetap kuat bersama Tentara Nasional yang dimiliki.

Geram dengan sikap Belanda kepada Indonesia, Jenderal Soedirman pun membuat pulau Jawa guna menjadi medan perang gerilya yang luas. Melihat ide sang jenderal, Belanda pun kehabisan logistik dan waktu. Dengan kerjasama Tentara Nasional dan seluruh rakyat akhirnya Indonesia berhasil memenangkan perang tersebut. Dengan ditanda tangani Perjanjian Roem-Royen, pihak Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia sepenuhnya.

3. Kartini (2017)

Nilai Kekeluargaan dalam Film ‘Kartini’ (merahputih.com)

Kisah Raden Ajeng Kartini memang sudah beberapa kali difilmkan, termasuk film yang telah tayang pada bulan April 2017 ini. Diproduksi oleh Legacy Pictures dan Screenplay Films, Hanung Bramantyo ambil bagian menjadi penulis naskah dan sutradara film Kartini. Ia pun mengajak aktor dan aktris cemerlang Tanah Air untuk bergabung dalam project kali ini, sebut saja Dian Sastrowardoyo sebagai Kartini, Christine Hakim, Ayushita, Acha Septriasa, Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Denny Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, dan Dwi Sasono.

Kartini dikisahkan dari rentang waktu 1883-1903 di Jepara, dari mulai masih kanak-kanak sampai dewasa. Kita bisa melihat Kartini kecil sudah memberontak karena ingin tidur dengan ibunya, Ngasirah (Christine Hakim) yang notabene adalah asisten rumah tangga. Hal tersebut bertentangan dengan tradisi Jawa pada saat itu karena Kartini memiliki ayah seorang Bupati (golongan bangsawan). Waktu berlalu hingga Kartini harus dipingit di dalam kamar karena usianya yang siap untuk dinikahi.

Kartini remaja yang jenuh dengan kehidupannya di rumah, apalagi setelah kakak tirinya, Soelastri (Adinia Wirasti) menikah dan akhirnya mendapatkan angin segar ketika kakaknya, Sosrokartono (Reza Rahadian) memberikan kunci lemarinya yang berisi buku-buku sebelum ia pergi ke Belanda. Kartini yang kemudian membaca buku-buku pemberian kakaknya berhasil membuat pikirannya tidak terpenjara dengan berbagai macam khayalan yang divisualisasikannya secara nyata. Sampai pada bagian dimana Kardinah (Ayushita) dan Roekmini (Acha Septriasa) masuk ke kamar Kartini untuk dipingit. Kartini pun mendapatkan dua ajudan untuk membantu perjuangannya.

Film Kartini ini menyajikan kisah heroik dengan sederhana yang dibungkus rapi dengan sinematografi, musik, dan tata artistik yang indah. Menonton Kartini akan membuat kita melek sejarah dengan cara yang lebih ringan.

Baca juga: Mengenal Sosok BJ Habibie, Putra Terbaik Bangsa

4. Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

Film Guru Bangsa Tjokroaminoto Raih Banyak Pujian (lifestyle-indonesia.com)

Film sejarah Indonesia yang satu ini berlatarkan perjuangan nasional kedua dari Garin Nugroho ini bercerita tentang hidup-juang salah satu tokoh pioneer pergerakan modern Indonesia, Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Reza Rahardian).

Setelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800, Hindia Belanda (Indonesia) memasuki babak baru yang berpengaruh ke kehidupan masyarakatnya. Yaitu dengan gerakan Politik Etis yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Tetapi kemiskinan masih banyak terjadi. Rakyat masih banyak yang belum mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial antar etnis dan kasta masih terlihat jelas.

Di saat itulah muncul sosok Raden Oemar Said Tjokroaminoto atau kemudian lebih dikenal dengan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, yang lahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang keislaman yang kuat. Ia tidak diam saja melihat kondisi tersebut. Walaupun lingkungannya adalah keluarga ningrat yang mempunyai hidup nyaman dibandingkan dengan rakyat kebanyakan saat itu. Hatinya merasa terbelenggu.

Ia berani meninggalkan status kebangsawanannya dan bekerja sebagai kuli pelabuhan untuk merasakan penderitaan sebagai rakyat jelata. Tjokro berjuang dengan membangun organisasi Sarekat Islam, organisasi resmi bumiputera pertama yang terbesar, sehingga bisa mencapai 2 juta anggota. Ia berjuang untuk menyamakan hak dan martabat masyarakat bumiputera di awal 1900 yang terjajah.

Dalam film ini, diceritakan bagaimana Tjokroaminoto tumbuh menjadi guru dari para pemimpin pergerakkan seperti Soekarno, Semaoen, Alimin, dan Musso. Film Guru Bangsa Tjokroaminoto diproduseri oleh lima orang sekaligus. Mereka adalah Christine Hakim, (Alm) Didi Petet, Dewi Umaya, Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noey ‘Letto’, Nayaka Untara dan (Alm) Ari Syarif.

Sederet bintang tenar baik yang muda maupun senior ikut memperkuat jajaran pemain. Ada Sudjiwo Tedjo, Maia Estianty, (Alm) Alex Komang, Egi Fedly, Ibnu Jamil, Christoffer Nelwan, Putri Ayudya, Deva Mahenra, dan Chelsea Islan. Kelompok teater terbaik dari Yogyakarta dan Surabaya juga turut memberi warna pada film ini. Film bergenre drama biopic ini lahir berkat dukungan penuh Yayasan HOS Tjokroaminoto dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Baca juga: Mengenal Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998, Pejuang Demokrasi!

Ayo, teruskan semangat perjuangan para pahlawan kita untuk terus berkonstribusi demi negara Indonesia yang lebih baik lagi. Semoga informasi yang TimiKimi sampaikan mengenai film sejarah Indonesia dapat bermanfaat dan menginspirasi Sobat!