Makna Hari Pahlawan 10 November 1945 Bagi Millennials

Bangsa Indonesia mengenal tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Mungkin banyak yang belum mengetahui kenapa pada tanggal 10 November tersebut ditetapkan sebagai Hari Pahlawan dan apa latar belakangnya. Berikut ini TunaiKita akan membahas mengenai makna Hari Pahlawan untuk generasi millennials. Simak yuk, Sobat!

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Momentum perayaan ini tentunya bukan hanya sekedar hadiah, melainkan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah rela mengorbankan jiwa, raga dan hartanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Jika kita menengok sejarah masa lalu, perjuangan para pahlawan dalam mengusir penjajah di bumi pertiwi ini, tidak bisa dibayar dalam bentuk apapun.

Para pahlawan rela bertempur mati-matian di medan perang, dan tak pernah gentar meski nyawa menjadi taruhannya. Maka dari itu, kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka saat hari pahlawan 10 November ini.

Hari Pahlawan: Sejarah Pertempuran 10 November 1954 Surabaya

Pahlawan Hari Ini: Pemuda Perawat Persatuan Bangsa (islami.co)

Yang melatarbelakangi tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan adalah peristiwa pertempuran hebat yang terjadi di Surabaya antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda. Mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) Sumarsono yang juga ikut ambil bagian dalam peperangan pada saat itu mengusulkan kepada Presiden Soekarno agar menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Momentum peperangan di Surabaya tersebut menjadi legitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sehingga nilai kepahlawanan tersemat dalam sebuah perjuangan melawan agresi militer. Dan untuk memobilisasi kepahlawanan secara militeristik, makanya 10 November dijadikan Hari Pahlawan.

Baca juga: Sejarah Hari Sumpah Pemuda Yang Tidak Boleh Kita Lupa

Penyebab Pertempuran 10 November 1945

Latar belakang terjadinya peperangan ini adalah karena adanya insiden Hotel Yamato Surabaya. Dimana ketika itu orang-orang belanda di bawah pimpinan Mr. Ploegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru yaitu bendera Belanda di atas Hotel Yamato di Surabaya. Hal ini tentunya membuat kemarahan di hati masyarakat Surabaya tatkala itu.  Karena hal ini dianggap telah menghina kedaulatan bangsa Indonesia dan juga kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada bulan Agustus tanggal 17 beberapa bulan yang lalu.

Sehingga hal ini membuat sebagian pemuda bertindak tegas dengan menaiki Hotel Yamato dan merobek berdera belanda warna birunya sehingga tinggal tersisa warna bendera bangsa Indonesia Merah Putih. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 Oktober. Inilah yang memicu terjadi peristiwa bersejarah pertempuran 10 November tersebut. Hotel Yamato dulu dikenal dengan istilah Yamato Hoteru (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Kemudian meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris pada 27 Oktober 1945. Serangan-serangan kecil itu ternyata dikemudian hari berubah menjadi serangan umum yang hampir membinasakan seluruh tentara Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

Kematian Jenderal Mallaby

Selamat Hari Pahlawan, Bagaimana Cara Bahas Perang dengan Anak? (www.liputan6.com)

Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah.

Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali.

Kematian jenderal Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Baca juga: Mengenal Sosok BJ Habibie, Putra Terbaik Bangsa

Pada tanggal 10 November 1945 subuh, pasukan Inggris melakukan aksi yang disebut Ricklef sebagai “pembersihan berdarah” di suluruh sudut kota. Serangan mengerikan itu dibalas dengan pertahanan rakyat yang galang oleh ribuan warga kota. Daripada mengikuti ultimatum meletakan senjata dan meninggalkan kota, arek Surabaya justru memilih tetap bertahan meskipun konsekuensi pilihan tersebut berarti adalah jatuhnya korban jiwa.

Pihak Inggris dalam waktu tiga hari telah berhasil merebut kota. Akan tetapi, pertempuran baru benar-benar reda setelah tiga minggu. Hal ini menandakan betapa gigihnya perlawanan arek Surabaya. Dari pertempuran itu, 6000 rakyat Indonesia gugur dan ribuan lainnya meninggalkan kota.

Hingga sekarang, peristiwa pertempuran Surabaya diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peringatan ini tidak hanya sekedar untuk mengajak seluruh rakyat Indonesia mengingat peristiwa heroik arek-arek Surabaya, tetapi juga merenungi kembali pengorbanan mereka kepada tanah air yang mereka cintai.

Makna Hari Pahlawan Bagi Generasi Millennials

Pahlawan Milenial: Antara Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan (www.hipwee.com)

Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, sekaligus sebagai bagian dari generasi millennials tentu kita masih bertanggung jawab untuk menghargai, meneladani dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan para pahlawan.

Momentum Hari Pahlawan bukan saja monentum untuk melaksanakan upacara dan kegiatan ziarah ke makam pahlawan saja, namun hari pahlawan ini dapat kita jadikan sebagai pembuktian terhadap rasa cinta tanah air dan rasa patriotisme kita terhadap Republik ini. Tahun demi tahun kita memperingati Hari Pahlawan ini, tapi semakin kesini kita seakan melupakan makna Hari Pahlawan, memang kita tidak ikut dalam peristiwa yang terjadi di Surabaya, namun peristiwa di Surabaya memberikan makna mendalam terhadap rasa kebangsaan kita.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, marilah sebagai generasi milenial sekaligus penerus bangsa kita senantiasa mencintai negeri ini. Melakukan hal-hal yang positif sesuai dengan bidang kita masing-masing,mengisi kemerdekaan yang ada dan berkontribusi nyata dalam perkembangan Indonesia. Bukan berarti saat kemerdekaan telah diraih, gelora bara api kepahlawanan menjadi usang dan padam pada era millennial. Karena sejatinya perjuangan kita belum selesai.

“Perjuangan pahlawan sangatlah berat, namun generasi millenial juga memiliki beban yang sama beratnya. Berjuang di tengah kuatnyaarus digital yang dapat memporak-porandakan persatuan sewaktu-waktu. Untuk itu, marilah menjadi generasi millennilas yang mau mendengar, mau membaca, mau memahami, mau melihat dengan hati, dan mau mencari tau kebenaran sebelum mengomentari”.

Baca juga: Atlet Indonesia Ini Berhasil Harumkan Nama Bangsa Hingga Tingkat Internasional

Ayo, Millennials Berkontribusi untuk Negara Indonesia

Nah, Sobat itulah makna mengapa kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November. Akan tetapi kepahlawanan tidak hanya sekedar itu saja. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Mari kita tiru semangat juang para pahlawan yang telah gugur dengan berkontribusi terhadap perkembangan bangsa Indonesia.

Selamat Hari Pahlawan. Semoga jiwa perjuangan para pahlawan, selalu terpatri di dalam diri hingga akhir hayat nanti.