Sedekah adalah amalan yang sangat dianjurkan karena bisa melipatgandakan rezeki bagi yang melakukannya. Sementara itu, membayar hutang adalah kewajiban yang harus dipenuhi bagi seseorang yang memilikinya. Jadi, mana di antara keduanya yang harus dilakukan terlebih dahulu?

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)“. (QS: al-An’am: 160).

Juga dalam firman-Nya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui“.  (QS: al-Baqarah: 261).

Dari dua ayat di atas bisa dilihat bahwa bersedekah adalah suatu anjuran amalan yang sangat mulia dengan balasan berlipat ganda. Akan tetapi, ayat-ayat ini juga tidak menyangkal tentang pentingnya menyegerakan pembayaran hutang, baik waktu yang telah ditentukan oleh pemberi hutang maupun jika diberi kelonggaran olehnya. Kenapa? Karena hukum membayar hutang adalah keharusan dan kewajiban, sedangkan bersedekah adalah sunah.

Imam al-Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih). Ibnu Majah juga membawakan hadis ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang”.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih sebagaimana Sahih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi).

Dari hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas sudah jelas, bahwa hendaklah seseorang melakukan amalan wajib terlebih dahulu barulah kemudian melakukan amalan sunnah. Dalam perihal ini maka kita diharuskan untuk lebih mendahulukan membayar hutang barulah kemudian bersedekah.

Adapun para ulama yang memiliki pandangan yang serupa tentang masalah orang yang menunaikan sedekah di saat menanggung hutang dengan menghabiskan seluruh hartanya, sebagian dari mereka berkata, “Sesungguhnya hal itu tidak boleh dia lakukan karena berakibat buruk pada orang yang memiliki hutang, serta membuatnya terus memikul tanggungan hutang yang sifatnya wajib ini.” Akan tetapi, ada juga sebagian ulama yang memiliki pandangan sedikit berbeda perihal ini, “Tindakan itu boleh, tetapi dia menentang hal yang lebih utama.”

Nah Sobat, berdasarkan ulasan di atas bisa kita simpulkan bahwa kita harus mendahulukan perkara wajib sebelum menunaikan ibadah sunnah. Dengan kata lain, kita harus menyelesaikan segala urusan hutang terlebih dahulu sebelum mengeluarkan sedekah untuk orang lain. Cukup jelas ya Sobat? Jadi, tuntaskan kewajiban terlebih dahulu ya Sobat!

 

Penulis: Indah Sari