Mengenal Sosok BJ Habibie, Putra Terbaik Bangsa

Tidak ada yang tidak mengenal sosok putra terbaik Indonesia, BJ Habibie atau yang biasa akrab dipanggil Eyang. Dikenal sebagai insinyur pesawat terbang yang sukses di Jerman, serta pernah menjabat sebagai presiden Indonesia pada tahun 1998 hingga 1999.  

Rabu, 11 September 2019, Indonesia kehilangan salah satu sosok yang luar biasa dan sangat berarti bagi Negara Indonesia. BJ Habibie meninggal di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta di usia 83 tahun.

Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang biasa dikenal dengan BJ Habibie, selain sukses dengan karya-karyanya, beliau juga dikenal sebagai pemimpin dalam pengembangan teknologi dan ekonomi Indonesia. BJ Habibie juga pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1998. Sejarah perjalanan hidup BJ Habibie sangat mengagumkan dan menarik untuk disimak. TunaiKita kali ini akan mengulas perjalanan hidup seorang BJ Habibie, Bapak teknologi kebanggaan Indonesia. 

Baca juga: Atlet Indonesia Ini Berhasil Harumkan Nama Bangsa Hingga Tingkat Internasional

Masa Kecil Habibie

Ini 10 Potret BJ Habibie dari Kecil hingga Dewasa (www.nusantaratv.com)

BJ Habibie atau yang mempunyai nama lengkap Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara dari orang tua yang bernama Alwi Abdul Jalil Habibie (Ayah) dan Raden Ajeng Tuti Marini Puspowordjojo (Ibu).

Sang Ayah merupakan seorang ahli pertanian yang berasal dari Gorontalo berdarah Bugis, dan Ibu beretnis Jawa, anak dari spesialis mata di Yogyakarta yang bernama Puspowardjojo. BJ Habibie diketahui tumbuh dalam keluarga yang religius. Alwi Abdul Jalil, ayahnya tak pernah absen untuk membacakan ayat suci Al-qur’an setiap hari di rumah.

Ketika sang Ayah membacakan ayat Al-qur’an, terutama di hadapan BJ Habibie, dia mengaku selalu merasa tenang. Setiap harinya, sang Ayah biasa membacakan satu hingga dua juz. Karena kebiasaan positif yang sudah ditularkan Ayahnya ini, BJ Habibie dapat membaca Al-qur’an dengan fasih pada usia 3 tahun.

Selain itu, BJ Habibie juga senang membaca dan olahraga berkuda. Tak heran, Habibie menjadi anak yang pintar sejak di sekolah dasar. Di usianya yang ke-14 tahun, Habibie harus rela kehilangan sang Ayah karena serangan jantung ketika mereka sedang mengadakan shalat Isya pada tanggal 3 September 1950.

Sosok yang Cerdas Sejak Kecil

BJ Habibie Wafat, Presiden Jokowi Sampaikan Duka Mendalam (www.merdeka.com)

Keinginan Habibie untuk terus belajar juga sangat kuat. Dia pun melanjutkan sekolah di Gouvernments Middlebare School (SMAK Dago Bandung). Saat masa SMA, bakat Habibie dalam pelajaran eksakta semakin menonjol. Ketertarikan besar jelas ditunjukkannya pada fisika. Sosoknya menjadi idola sekolah kala itu.

Kecerdasan Habibie muda berhasil mengantarkannya tembus melanjutkan kuliah. BJ Habibie melanjutkan studinya ke ITB (Institute Teknologi Bandung) setelah lulus SMA pada tahun 1954. Saat itu, ITB masih bernama Universitas Indonesia Bandung. Pada saat itu, BJ Habibie masuk jurusan Teknik Mesin di fakultas Teknik. Tapi setelah beberapa bulan menimba ilmu di ITB, BJ Habibie mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Jerman.

Dalam jangka waktu 10 tahun, antara 1955 hingga 1965, BJ Habibie memfokuskan diri untuk spesialisasi konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technisce Hochschule (RWTH). Beasiswa yang didapatkan merupakan program yang sedang dijalankan oleh Pemerintah Soeharto untuk membiayai ratusan siswa berkompetensi Indonesia agar dapat belajar di luar negeri.

Kuliah di luar negeri adalah sebuah perjuangan bagi BJ Habibie. Di masa liburan pun, Habibie mengisinya dengan mencari uang, ujian, dan juga mencari buku-buku yang ia perlukan untuk kuliahnya. Memasuki penghujung masa liburan, dia mengesampingkan kegiatan lain dan hanya berfokus pada kegiatan belajarnya.

Berkat kerja keras dan perjuangannya menimba ilmu, BJ Habibie mendapatkan gelar Ing (predikat Cumlaude – sempurna, dengan perolehan nilai rata – rata 9,5) dari Technische Hochschule Jerman pada tahun 1960. 

BJ Habibie atau yang biasa dipanggil Rudy oleh teman temannya semasa pendidikan di Jerman, menikahi seorang wanita bernama Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962. Habibie membawa sang istri untuk hidup di Jerman, bersama dengan kedua anaknya yang bernama Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Karir Sukses di Dunia Penerbangan dan Karir Politik di Indonesia

Perjalanan BJ Habibie, Hingga Difilimkan (sumatratimes.com)

Begitu meraih gelar Doctor Ingenieur pada 1965, Habibie langsung mendapat pekerjaan di Perusahaan Penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB). Di perusahaan yang berkantor utama di Hamburg Jerman ini, Habibie mengawali karir sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktur Pesawat Terbang.

Empat tahun berselang, Habibie mendapat kedudukan sebagai Kepala Divisi Metode dan Teknologi dalam industri pesawat militer dan komersial. Lagi-lagi dalam empat tahun, Habibie kembali mendapat jabatan baru. Kinerjanya membuat dia dipercaya menjadi Direktur Teknologi merangkap Vice President di perusahaan tersebut selama lima tahun. Dia menjadi satu-satunya orang Asia yang dipercaya sebagai Vice President di MBB. Tak lama kemudian, Habibie mendapat kedudukan sebagai Penasihat Senior bidang teknologi pada 1978.

Memiliki karir cemerlang di MBB tidak membuat Habibie lupa dengan tanah air. Pada 1968, sebanyak 40 insinyur Indonesia berhasil mendapat pekerjaan di MBB berkat rekomendasinya. Rupanya hal itu dilakukan untuk mempersiapkan sumber daya jika sewaktu-waktu menciptakan produk kedirgantaraan di Tanah Air.

Pada masa itu, Habibie juga berhasil menemukan sebuah teori baru yang sangat bermanfaat bagi dunia penerbangan. Habibie muda menemukan cara bagaimana untuk menghitung keretakan (crack propagation on random) pada pesawat bahkan sampai ke bagian atom.

Baca juga: Mengenal Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998, Pejuang Demokrasi!

Soeharto Memanggil Habibie

Kisah keraguan Soeharto kepada Habibie & lepasnya Timor-Timur (www.merdeka.com)

Soeharto mengambil alih kekuasaan sebagai presiden kedua Indonesia pada tahun 1966, dan pada tahun 1974 dia meminta BJ Habibie untuk kembali ke Indonesia guna membantu pembangunan industri semakin maju.

Soeharto meyakinkannya bahwa Habibie dapat melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Awalnya BJ Habibie ditugaskan untuk perusahaan minyak negara (Pertamina). BJ Habibie menjadi penasihat pemerintah dan kepala perusahaan kedirgantaraan pada tahun 1976. Dua tahun kemudian ia menjadi menteri riset dan kepala Badan Evaluasi dan Aplikasi Teknologi.

Pada akhir 1990-an, Habibie dipandang sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan calon pengganti Soeharto. Pada bulan Maret 1998, Soeharto mengangkat Habibie sebagai wakil presiden, dan dua bulan kemudian, setelah terjadinya bentrokan serta aksi massa berskala besar di Jakarta, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. BJ Habibie yang saat itu didorong untuk menjadi pemimpin nomor satu pengganti Soeharto, segera mulai menerapkan reformasi besar.

Dia menunjuk kabinet baru dan melakukan beberapa langkah strategis seperti, memecat putri sulung Soeharto sebagai menteri urusan sosial serta teman lamanya sebagai menteri perdagangan dan industri, menunjuk sebuah komite untuk menyusun undang-undang politik yang tidak terlalu membatasi. Kemudian mengizinkan kebebasan pers, pengaturan terhadap pemilihan parlemen dan presiden secara bebas di tahun berikutnya dan menyetujui batas masa jabatan presiden (dua masa jabatan lima tahun). BJ Habibie juga memberikan amnesti kepada lebih dari 100 tahanan politik.

Baca juga: 11 Tahun Berlalu, Yuk Peringati Kembali Hari Reformasi

Selamat Jalan BJ Habibie, Bapak Teknologi Indonesia

Dikenal sangat setia dan mencintai istrinya Ibu Ainun hingga saat Ainun menghembuskan nafas terakhir pada 22 Mei 2010, Habibie masih setia berada didekatnya. Hingga akhirnya beliau juga menghembuskan nafas terakhir pada 11 September 2019. 

Kita bisa melihat dari kisah BJ Habibie yang memiliki jiwa nasionalisme dan cinta tanah air yang sangat tinggi. Selamat jalan Pak Habibie, terima kasih sudah memberikan perubahan untuk Indonesia.