Perhitungan BPJS Ketenagakerjaan Yang Wajib Kamu Ketahui

perhitungan bpjs ketenagakerjaan

Mungkin masih banyak dari kita yang belum memahami cara perhitungan BPJS Ketenagakerjaan. Untuk kamu yang berprofesi sebagai karyawan dan mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan, simak ulasan berikut yuk!

BPJS Ketenagakerjaan yang dahulu bernama Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), merupakan program pemerintah yang memberikan perlindungan atau proteksi bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraannya menggunakan asuransi sosial.

Fokus dari BPJS Ketenagakerjaan dikhususkan pada para tenaga kerja dan semua pegawai, baik itu pegawai sipil maupun swasta. Terhitung mulai tanggal 1 Januari 2014, secara resmi PT Jamsostek telah bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini dilakukan sesuai dengan lahirnya Peraturan Perundang-undangan No. 24 Tahun 2011 mengenai Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial di Indonesia.

Dengan adanya BPJS Ketenagakerjaan maka kamu akan mendapatkan banyak keuntungan untuk melindungi atau memproteksi diri dari risiko-risiko yang akan terjadi. Dengan pembiayaan yang terjangkau oleh pengusaha dan tenaga kerja sebagai alternatif dari asuransi kesehatan. Nah, berikut ini ulasan mengenai perhitungan BPJS Ketenagakerjaan yang wajib kamu ketahui.

Program dan Perhitungan BPJS Ketenagakerjaan

Source: Google

Dengan adanya peralihan yang dilakukan pemerintah pada BPJS Ketenagakerjaan, sejumlah kebijakan juga tentu akan ikut terjadi di dalamnya. Salah satu yang terpenting adalah jenis layanan serta besaran iuran yang akan dikenakan bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan itu sendiri. Hal ini sangat penting untuk dipahami sejak awal, agar para peserta mengetahui dengan jelas apa saja kewajiban dan juga hak mereka atas penggunaan BPJS Ketenagakerjaan.

Baca juga: Yuk Cari Tahu Tentang SIPP BPJS Ketenagakerjaan Dan Cara Penggunaannya

Nah, berikut adalah program BPJS Ketenagakerjaan dan besaran perhitungan BPJS Ketenagakerjaan yang harus dibayarkan oleh setiap pesertanya:

1. Program Jaminan Hari Tua (JHT)

Source: Google

Program Jaminan Hari Tua atau JHT adalah program yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan, merupakan program dasar yang memiliki tujuan untuk menjamin pekerja atas berbagai risiko sosial dan ekonomi yang mungkin datang sewaktu-waktu, terutama ketika kamu telah memasuki masa tua. Lalu, siapa saja yang akan menjadi peserta JHT?

Semua pekerja yang menerima upah, wajib menjadi peserta JHT, antara lain seluruh pekerja yang bekerja pada perusahaan (termasuk perseorangan), WNA yang bekerja di Indonesia dengan masa kerja di atas 6 bulan. Sedangkan di luar kategori tersebut, akan masuk ke dalam peserta yang tidak menerima upah, antara lain para pengusaha (pemberi kerja) dan pekerja yang bekerja secara mandiri.

Manfaat JHT dapat kamu terima dalam bentuk tunai dengan jumlah yang terdiri dari akumulasi iuran ditambah dengan hasil pengembangannya. Dana ini akan dicairkan sekaligus di saat kamu mencapai usia 56 tahun, atau meninggal dunia, atau mengalami cacat permanen dan berhenti bekerja.Selain kondisi yang disebutkan di atas, usia pensiun juga terdiri dari beberapa kondisi, diantaranya PHK dan tidak lagi bekerja, mengundurkan diri dan tidak lagi bekerja, atau karena akan pergi dan menetap di luar negeri untuk selamanya.

Sedangkan Iuran yang harus dibayarkan untuk program JHT ini, yaitu masing-masing pekerja dan juga pemberi kerja akan memiliki porsi tersendiri dalam hal ini. Besaran iuran untuk peserta yang menerima upah adalah 5,7% dari upah yang diterimanya, dengan porsi 2% berasal dari pekerja dan 3,7% berasal dari pemberi kerja.

Sedangkan untuk yang tidak menerima upah, besaran iuran ini bisa dipilih sesuai dengan daftar yang telah ditetapkan oleh BPJS Ketenagakerjaan. Keterlambatan dalam pembayaran iuran ini akan dikenakan denda sebesar 2% dari jumlah iuran, untuk setiap bulan keterlambatan. Pembayaran dapat dilakukan paling lambat tanggal 15 setiap bulannya.

2. Program Jaminan Kecelakaan (JKK)

Source: Google

Program kedua yang ditawarkan BPJS Ketenagakerjaan yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Program ini akan melindungi pekerja dari berbagai risiko kecelakaan dalam hubungan kerja, termasuk risiko kecelakaan selama dalam perjalanan (pulang-pergi) dari dan menuju tempat kerja, serta risiko terhadap penyakit yang dialami akibat pengaruh tertentu dari lingkungan kerja itu sendiri. Iuran program JKK menjadi kewajiban pemberi kerja. Sedangkan klaim untuk program ini hanya berlaku maksimal 2 tahun setelah terjadinya kecelakaan itu sendiri.

Baca juga: Belum Terlambat! Lindungi Dirimu Dengan Mendaftar BPJS Kesehatan Online

Berapa perhitungan iurannya? Besaran iuran JKK akan dihitung berdasarkan tingkat risiko lingkungan kerja, di mana nilai ini akan dievaluasi setidaknya 2 tahun sekali. Berikut ini adalah besaran iuran JKK untuk peserta penerima upah:

  • Tingkat risiko sangat rendah: 0,24% dari upah sebulan
  • Tingkat risiko rendah: 0,54% dari upah sebulan
  • Tingkat risiko sedang: 0,89% dari upah sebulan
  • Tingkat risiko tinggi: 1,27% dari upah sebulan
  • Tingkat risiko sangat tinggi: 1,74% dari upah sebulan.

3. Program Jaminan Kematian (JKM)

Source: Google

Selanjutnya BPJS Ketenagakerjaan memiliki program yang bernama Jaminan Kematian (JKM). Program JKM ini hanya berlaku bagi peserta yang meninggal dunia, namun bukan karena mengalami kecelakaan kerja. Seperti jaminan kematian lainnya, program ini memang diperuntukkan bagi ahli waris dan akan diberikan dalam bentuk tunai jika peserta meninggal dunia dan masih aktif bekerja.

Besaran iuran yang harus dibayarkan pesertanya (peserta penerima upah) sendiri sebesar 0,30% dari gaji / upah bulanan, dan Rp6.800,- per bulannya bagi peserta yang tidak menerima upah. Besaran iuran ini juga akan dievaluasi secara berkala, paling lambat per 2 tahun.

4. Program Jaminan Pensiun

Source: Google

Program jaminan yang terakhir yaitu Jaminan Pensiun. Jaminan Pensiun merupakan program yang dibuat pemerintah untuk menjamin kehidupan yang layak bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan di masa pensiunnya. Ini juga termasuk apabila peserta mengalami cacat total atau meninggal dunia.

Baca juga: Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan Milikmu Dengan Cara Ini!

Jika mengalami risiko tersebut, maka manfaat dari program ini akan diberikan dalam bentuk sejumlah dana setiap bulannya kepada peserta atau kepada ahli waris (jika peserta meninggal dunia)/ Sama seperti peserta Jaminan Hari Tua, peserta program ini juga merupakan pekerja yang menerima upah seperti pekerja yang tidak menerima upah.

Sedangkan perhitungan BPJS Ketenagakerjaan pada program ini, biaya iuran peserta yang harus dibayarkan pada program Jaminan Pensiun, peserta penerima upah akan diwajibkan membayar 3 persen dari upah bulannya (2 persen iuran dibayarkan oleh pemberi kerja dan 1 persen oleh pekerja. Sedangkan untuk pekerja yang tidak menerima upah, besaran iuran telah diatur berdasarkan kemampuan keuangan dan juga kebutuhan yang peserta akan jaminan pensiun itu sendiri.

Rasakan Manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan

Yuk, rasakan manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan, pendaftarannya mudah, prosesnya pun cukup cepat. Sobat juga tidak perlu ragu apakah BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan yang baik dibandingkan dengan produk asuransi lain. Karena produk ini sudah terbukti selama puluhan tahun melindungi para pekerja Indonesia. Perusahaan juga memiliki kewajiban untuk mendaftarkan pegawainya di BPJS Ketenagakerjaan yang tertulis dalam Pasal 15 ayat (1) UU BPJS. Jadi, usir jauh-jauh rasa khawatir tersebut dan daftar sekarang juga sebelum terlambat ya!