Mengenal Sosok 4 Pahlawan Reformasi Mei 1998, Pejuang Demokrasi!

Dua dekade sudah terlewati. Perjuangan para pahlawan reformasi seolah baru kemarin terjadi. Bunyi tembakan, jerita, dan suasana tegang. Bisakah kita melupakannya? Perjuangan yang dilakukan para pahlawan reformasi demi negeri tercinta Indonesia.

Hari ini, 21 tahun yang lalu. Puluhan atau bahkan ratusan mahasiswa turun ke jalanan. Berdemonstrasi. Bersuara. Berjuang untuk satu kata yaitu reformasi. 12 dan 13 Mei 1998. Warna kelam Indonesia, salah satu titik besar reformasi. Maut menjemput empat mahasiswa Trisakti, Selasa malam, 12 Mei 1998.  Elang saat itu mahasiswa Arsitektur Universitas Trisakti. Ketiga rekannya yang juga ditemukan tak bernyawa setelah serbuan tembakan ke arah kampus mereka. Pada Selasa malam, 21 tahun lalu itu adalah, Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi), Hafidhin Royan (Teknik Sipil), dan Hery Hartanto (Teknologi Industri).

Presiden keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Agustus 2005 memberikan Bintang Jasa Pratama kepada Elang bersama mahasiswa Trisakti yang meninggal dalam tragedi Trisakti tersebut. Mereka dianggap sebagai Pahlawan Reformasi. Namun, itu tidak cukup, bahwa keadilan tak bisa ditukar status bintang jasa. Setelah 21 tahun, generasi millennial perlu mengenal empat sosok pejuang mahasiswa yang meregang nyawa diterjang timah panas aparat keamanan untuk memperjuangkan kebebasan, dan demokrasi.

Berikut ini ulasan mengenai empat mahasiswa Trisakti, pahlawan reformasi yang meregang nyawa saat memperjuangkan demokrasi di negeri tercinta Indonesia yang terjadi pada Mei 1998.

Profil Pahlawan Reformasi Pejuang Demokrasi

1. Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Arsitektur, Angkatan 1996)

Source: Google

Berpenampilan gagah, berwajah tampan, berkulit putih bersih, dan berambut hitam berombak. Pemuda murah senyum ini selalu menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya. Pemuda  kelahiran Jakarta, 5 Juli 1978, anak dari pasangan Boy Bagus Yoganadita Rahman dan Hira Tetty Yoga.

Elang dikenal sosok yang lucu dan suka bercanda, ini terbukti pada saat aksi dia memasang poster dan spanduk dengan umpatan-umpatan jenaka. Anak kedua dari enam bersaudara yang tinggal di kawasan Graha Permai, Ciputat, itu sejak kecil sudah punya hobi melukis. Ketika menginjak remaja, penggemar seafood ini giat dengan olahraga basketnya. Kegemarannya melukis itulah yang mengantarkannya studi ke jurusan arsitektur, yang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Elang tutup usia akibat timah panas aparat keamanan yang menembus lehernya pada 13 Mei 1998.

Baca juga: 11 Tahun Berlalu, Yuk Peringati Kembali Hari Reformasi

2. Hafidin Royan, (Fakultas Teknik Sipil, Angkatan 1996)

Source: Google

Merupakan mahasiswa jurusan Teknik Sipil, kelahiran Bandung, 28 September 1976. Dia ditembak di bagian belakang kepala ketika berada di depan pintu Gedung Sjarif Thajeb. Royan tertembak di dahi dan tak sempat diselamatkan di rumah sakit.

Pemuda yang dikenal dengan penampilannya yang kalem ini merupakan anak keempat dari lima bersaudara pasangan Ir. Enus Yunus dan Ir. Sunarmi. Royan menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di Bandung. Setelah menamatkan SMU di Bandung tahun 1966, Royan melanjutkan pendidikannya ke Trisakti. Di Jakarta, Royan ikut ayahnya dan tinggal di perumahan Cipayung, Jakarta Timur. Bila tak ada kesibukan di kampus, hampir setiap akhir pekan Royan pulang ke Bandung. Royan adalah satu-satunya anak lelaki dari pasangan Enus Yunus dan Sunarmi.

3. Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi, Angkatan 1996)

Source: Google

Seorang pahlawan reformasi berikutnya yaitu Hendriawan, lahir di Balikpapan, 3 Mei 1978. Anak tunggal pasangan Hendriksie dan Karsiah ini menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di kota minyak Balikpapan. Pemuda bertampang macho dengan rambut sebahu yang disisir rapi itu juga dikenal sebagai pemusik, dengan petikan gitarnya yang cukup memukau. Tak hanya itu, berjalan di atas catwalk, sebagai peragawan, juga pernah dilukannya.

Baca juga: Millennials Nggak Boleh Lupa! Sejarah Singkat Dari Hari Kebangkitan Nasional

Pada 1996, setelah tamat SMU di kota kelahirannya, Hendriawan masuk Fakultas Ekonomi di Universitas Trisakti. Di Jakarta, Hendriawan tinggal bersama pamannya, Subaning, yang merupakan pegawai pemerintah DKI Jakarta di Kawasan Kedoya, Jakarta Barat. Di kalangan anak-anak di kawasan Kedoya itu, Sejak kecil Hendriawan sudah pandai bercerita, dia juga dikenal sebagai pencerita yang suka memberi permen. Sehari sebelum ia gugur, Hendriawan mengirimkan surat kepada ayahnya untuk meminta uang dan minta untuk didoakan agar ujian semester bisa dijalaninya dengan baik, serta cerita panjang lebar mengenai gerakan reformasi yang diperjuangkan mahasiswa Indonesia. Pada 13 Mei 1998, sore harinya Hendriawan terkena tembakan yang mematikan yang terjadi di kampus Universitas Trisakti.

4. Hery Hartanto (Fakultas Teknik Mesin, Angkatan 1995)

Source: Google

Pemuda berusia 21 tahun yang bertubuh gempal dengan tinggi 170 cm itu gugur setelah bagian tulang belakangnya tertembus peluru yang bersarang di dada bagian kiri. Pahlawan reformasi ini meninggalkan duka mendalam bagi kedua orangtuanya, Sjahrir Mulyo Utomo dan Lasmiati, serta dua orang adik perempuannya. Sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Teknik Mesin di Universitas Trisakti, Hery juga dikenal sebagai mahasiswa baik-baik. Ia tak dikenal sebagai aktivis suatu organisasi apa pun. Meski tak aktif berorganisasi, Heri mudah bergaul dan banyak teman. Kepeduliannya terhadap rekan-rekannya, baik di kampus maupun di kampungnya, di Jalan Cempaka Timur XVII, Jakarta Timur, sangatlah kental.

Hal ini dibuktikan saat ia merintis usaha bengkel dan fotokopi. Usahanya itu dimaksudkan untuk menampung teman-temannya yang menganggur dan tak mampu meneruskan kuliah. Di kalangan teman-temannya, Hery dikenal mempunyai jiwa wirausaha dan solidaritas yang tinggi. Untuk memulai usahanya, Hery pernah mengajukan proposal untuk meminta pinjaman dana ke Bank Rakyat Indonesia, Rp200 juta. Namun, mimpi itu harus kandas karena takdir telah menggariskan bahwa ia gugur bersama cita-cita yang tengah dirintisnya.

Baca juga: Hari Pendidikan Nasional: Mengenal Sosok Ki Hajar Dewantara Dan Makna Hardiknas

Kenang Selalu Perjuangan Pahlawan Reformasi

Dua puluh tahun sudah Reformasi bergulir. Namun, peristiwa kelam yang menandai berakhirnya era orde baru pada 1998 justru mulai terlupakan. Empat mahasiswa Universitas Trisakti yang telah menjadi martir bagi peristiwa itu masih belum jelas penuntasan kasusnya hingga saat ini. Itulah mengapa pentingnya pengetahuan sejarah era reformasi, khususnya untuk para generasi millennial. Semoga keadilan di Indonesia lebih baik lagi dan semakin sejahtera untuk bangsanya!